Wednesday, January 16, 2013

Aristoteles

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Dalam sejarah dunia Barat, berawal dari alam pemikiran Yunani yang merupakan sebagai tonggak lahirnya filsafat di Barat. Filsafat Barat melahirkan pemikiran-pemikiran baru yang tak pelak lagi dapat mengubah paradigma manusia dan terus berkembang dari masa ke masa. Bermula dari filsafat alam oleh filosof-filosof Grik pertama yakni Thales, Anaximandros dan Anaximenes yang mempelopori pemikiran mengenai alam besar. Kemudian dilanjutkan pada zaman sofistik, yang mengubah pandangan filosofi dari kosmos (alam besar) ke manusia. Pada zaman inilah merupakan zaman pembukaan pikiran yang memberikan sejarah filosofi penting dalam peralihan pandangan baru dan pada titik inilah lahirnya filosofi klasik.

Filsafat klasik bermula ditanam dasarnya oleh Sokrates kemudian dilanjutkan oleh muridnya, Plato dan Aristoteles. Ketiga orang inilah yang dianggap berperan besar dalam membentuk pola pikir barat. Sokrates menekankan pentingnya argumentasi dan pemikiran kritis dalam berpikir. Plato menekankan perlunya untuk selalu mencari kebenaran dan mempertahankan pemikiran kritis. Sedangkan Aristoteles, murid dari Plato dan guru dari Alexander Agung, mengembangkan pemikiran kategoris dimana segala sesuatu harus dapat didefinisikan dan dikategorikan.
Namun, sistem ajaran filsafat klasik baru dibangun oleh Plato dan Aristoteles. Sistem ajaran Plato dan Aristoteles ini berdasarkan ajaran Sokrates tentang pengetahuan etik beserta filosofi alam yang berkembang sebelum Sokrates. Dengan demikian Plato dan Aristoteles menjadi buah buah pikiran dalam titik persatuan pandangan yang berbeda. Namun karya yang paling gemilang adalah buah pikiran dari Aristoteles, dimana ia membangun sistem filosofi yang didalamnya terdapat tempat tersendiri bagi berbagai ilmu spesial seperti fisika, biologi, etik, politik dan psikologi. Ia mempelajari dengan mengamati kenyataan-kenyataan yang kelihatan kemudian yang bersangkut-pautannya. Berbeda dengan pandangan Plato yang mempelajari dunia yang tidak kelihatan atau dunia idea Memang, pada mulanya Aristoteles juga mengikuti pemikiran Plato, tetapi selama 25 tahun yang terakhir dari hidupnya ia melakukan caranya sendiri dengan karakteristik yang berlainan.
Oleh karena itu penting untuk kita ketahui bagaimana pandangan–pandangan ilmiah filosofi Aristoteles yang mampu sampai berkembang pada masa sesudahnya sampai dua ribu taun lamanya.Tentu dalam makalah ini, kami akan mencoba menelisik pandangan dan pemikiran filosofi Aristoteles.
B.       Rumusan Masalah
1.      Jelaskan biografi singkat Aristoteles?
2.      Uraikan gambaran pandangan-pandangan Aristoteles?
3.      Bagaimana Aristoteles membuktikan kesalahan teori ide Plato?
4.      Jelaskan teori logika, metafisika, etik dan politik Aristoteles?
C.      Tujuan dan Manfaat Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan pengetahuan pemikiran dari tokoh pemikir tokoh yang terkenal di zamannya yakni Aristoteles. Ia berperan besar dalam membentuk pola pikir barat dan berpengaruh besar bagi generasi selanjutnya.
Kami sangat berharap makalah ini dapat bermanfaat untuk menjadi bahan penambah informasi mengenai pemikiran-pemikiran Aristoteles agar kita mampu menjadikannya sebagai pola berpikir kita dalam berfilsafat.






BAB II
PEMBAHASAN
A.      Biografi Aristoteles
Aristoteles lahir pada tahun 384 SM di Stageria pada semenanjung Kalkalide di Trasia (Balkan). Ayahnya bernama Machaon adalah seorang dokter istana pada raja Macedonia amyntas II yang sangat dihormati. Ia banyak mendapat pelajaran teknik membedah karena dari kecil ia mendapat asuhan ayahnya. Ia banyak menggeluti ilmu-ilmu alam terutama ilmu biologi sampai berumur 18 tahun. Latar belakang inilah yang telah memberikan gambaran pada ajaran filsafat Aristoteles. Ia bukan hanya sebagai filosof Yunani besar yang terakhir, namun ia juga sebagai ahli biologi besar Eropa yang pertama.
Tatkala ayahnya meninggal, ia pergi ke Atena dan belajar pada Plato di Akademia selama 20 tahun. Disaat itulah ia banyak rajin membaca dan mengumpulkan banyak buku-buku sehingga Plato mempunyai penghargaan besar terhadap muridnya Aristoteles karena telah menyusun suatu bibliotik (perpustakaan) pertama di atena dan rumahnya diberi julukan “rumah pembaca”.
Setelah Plato meninggal, Aristoteles meninggalkan Atena bersama dengan kawan belajar di Akademia, Xenokrates. Mereka berangkat ke sebuah kota kecil di pantai Asia Minor, kota Atarneus yang dikuasai ole Hermias (mantan murid Plato di Akademia). Kedatangan mereka disambut dengan gembira dan sebagai penghargaan terhadap Aristoteles, Hermeis menikahkannya dengan saudara perempuannya yang bernama Pythias. Namun, kedua ahli filosofi ini hanya tinggal selama 3 tahun di Aternus karena ada serangan dari tentara kerajaan Persia. Namun ia berhasil melarikan diri bersama istrinya dan menerima undangan dari raja Macedonia Philippos untuk mendidik anaknya Alexandros yang berusia 13 tahun.
Ia juga mendirikan lingkungan sekolah dengan nama “Lykeios”, bertempat di sebelah pinggir kota yang tidak jauh dari candi Lykeios. Selain dari mengajar, ia juga banyak menulis hingga akhir tuanya.Sebagian besar buah pikirannya yang tertulis dituliskannya dalam masa itu. Pada tahun 322 SM, Aristoteles menghembuskan nafasnya pada usia 63 tahun karena penyakit perut yang membawa ia maut. Jika sekiranya umurnya lebih panjang, tentu semua tulisannya itu disiapkam menjadi buku yang besar nilainya. Namun, pikiran Aristoteles menguasai masa sesudahnya sampai dua ribu tahum lamanya[1].Hasil karyanya banyak sekali. Akan tetapi, sulit menyusun karyanya itu secara sistematis. Berbeda-beda cara orang membagi-bagikannya. Ada yang membaginya atas 8 bagian, yang mengenai : logika, filsafat alam, psikologi, biologi, metafisika, etika politik dan ekonomi dan akhirnya retorika dan poetika ada juga orang yang menguraikan perkembangan pemikiran Aristoteles meliputi 3 tahap, yaitu :
Ø  Tahap di akademi, yaitu ketika dia masih setia kepada gurunya, Plato, termasuk ajaran Plato tentang idea.
Ø  Tahap di Assos, ketika ia berbalik daripada Plato, mengkritik ajaran Plato tentang ide-ide serta membentuk pemikiran filsafatnya sendiri.
Ø  Tahap ketiga yaitu tahap ketika ia di sekolahnya di Athena, waktu itu ia berbalik dari berspekulasi ke penyeidikan empiris, mengindahkan yang konkrit dan yang individual .[2]
B.       Pandangan Aristoteles
       Menurut Aristoteles filsafat ilmu adalah sebab dan asas segala benda. Oleh karena itu dia menamakan filsafat sebagai teologi. Filsafat sebagai refleksi dari pemikiran sistematis manusia atas realitas dan sekitarnya, tentunya tidak berdiri sendiri, tidak tumbuh diruang dan tempat yang kosong. Lingkungan keluarga, sosial alam dan potensi diri akan ikut mempengaruhi seseorang dalam melakukan refleksi filosofis. Oleh karenanya dalam sejarah pemikiran manusia terdapat tokoh pemikir ataupun filosof yang selalu saja muncul dari zaman ke zaman dengan tema yang berbeda-beda. Aristoteles (381 SM-322 SM) mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu yang meliputi kebenaran. Aristoteles memiliki pendapat yang sama terhadap gurunya Plato, bahwa tujuan terakhir dari filosofi ialah pengetahuan adanya dan yang umum. Ia juga berpandangan bahwa kebenaran yang sebenarnya hanya dapat dicapai dengan jalan pengertian. Namun, pandangan Aristoteles lebih realis dari pandangan Plato. Plato mempelajari keseluruhan adanya yang dipelajari ialah dunia yang tidak kelihatan yakni bentuk-bentuk kekal atau ide-ide. Sedangkan Aristoteles mempelajari adanya lingkungan pada kenyataan-kenyataan yang kelihatan yakni memperhatikan perubahan-perubahan alam atau proses alam. Ini disebabkan karena pengaruh didikan diwaktu kecil yang senantiasa di hadapkan kepada bukti dan kenyataan.
Ia lebih memandang kepada yang konkrit atau nyata. Awalnya ia mengumpulkan fakta-fakta kemudian dususun menurut ragamnya dan sifatnya. Ia menyelidiki sebab-sebab yang terjadi dalam keadaan yang nyata dan mencari keterangan. Cara kerjanya dengan memperhatikan pendapat ahli-ahli filosofi terdahulu secara kritis dan diperbandingkan kemudian barulah dikemukakan pendapatnya sendiri dengan alasan yang dipertimbangkan.
Maka tak heran, Aristoteles lebih menjelajah pada ilmu-ilmu spesial. Tiap-tiap buku yang dikarangnya membahas masing-masing masalah yang ditinjaunya dengan kumpulan masalah yang terpisah. Ia menulis uraian-uraian tersendiri tentang logika, fisika, biologi, metafisika, etik dan politik. Jadi, filosofi Aristoteles adalah kumpulan dari segala ilmu pengetahuan yang diuraikan satu persatu.
Kita menemukan bahwa terdapat perbedaan yang jelas antara Plato dan Aristoteles. Plato adalah seorang penyair dan ahli mitologi, sedangkan tulisan-tulisan Aristoteles sangat kering dan kaku seperti ensiklopedia serta kebanyakan didasarkan pada telaah-telaah lapangan yang sangat cermat. Dari catatan Yunani kuno, diperkirakan terdapat 170 judul tulisan Aristoteles. Dari semua itu, 47 judul berhasil dilestarikan.[3]
C.      Kritik Aristoteles atas teori Plato
Kritik Aristoteles atas teori Plato mengenai ide. Dia tidak setuju bahwa bentuk nyata dari suatu benda (“kuda” sebagai contoh) itu kekal dan abadi serta ide itu sudah ada sebelum benda nyatanya. Tapi menurut Aristoteles, “ide” kuda itu adalah konsep yang dibentuk oleh manusia setelah melihat beberapa bentuk kuda. Ide atau bentuk kuda itu tercipta dari ciri-ciri kuda yakni sesuatu yang dimilki oleh semua kuda. Oleh karena itu, ide-ide itu ada dalam benda itu sendiri, karenanya tidak dapat dipisahkan sebagaimana tubuh dan jiwa.
Dalam teori Plato, tingkat realitas yang paling tertinggi adalah seuatu yang kita pikirkan dengan akal kita. Sedangkan menurut Aristoteles, tingkat realitas tertinggi adalah sesuatu yang kita lihat dengan indra kita. Plato berpendapat bahwa semua benda yang kita lihat didunia alam ini semata-mata cerminan dari benda-benda yang ada dalam realitas dunia ide, dan ide itu dalam jiwa manusia. Sebaliknya, Aristoteles berpendapat, benda-benda yang ada didalam jiwa manusia itu semata-mata cerminan dari objek-objek alam. Maka, alam adalah dunia nyata.[4]
Selain itu, Aristoteles mengemukakan bahwa tidak ada sesuatu pun dalam kesadaran yang belum pernah dialami oleh indra. Sedangkan Plato sebelumnya mengatakan bahwa tidak ada sesuatu pun di alam ini yang tidak didahului dengan ide. Namun, dari mana datangnya ide itu? Aristoteles berpendapat bahwa kita tidak mempunyai ide bawaan seperti yang diyakini Plato, tapi kita mempunyai kemampuan ide bawaan untuk mengorganisasikan seluruh yang dari indrawi ke dalam kategori-kategori dan kelompok-kelompok. 
D.   Karya-karya Pemikiran Aristoteles
1.        Logika
Aristoteles dikenal sebagai “Bapak” logika. Namun tidak berarti bahwa sebelum Aristoteles tidak ada logika. Segala orang ilmiah dan ahli filsafat sebelum Aritoteles telah menggunakan logika dengan sebaik-baiknya karena logika merupakan berpikir secara teratur menurut urutan yang tepat berdasarkan hubungan sebab akibat. Pada dasarnya berpikir haruslah menghubungakan isi pikiran dalam hubungan yang tepat. Maka, Aristoteleslah yang pertama kali menemukan cara berpikir yang tepat dan teratur dalam suatu sistem. Namun, logika yang diciptakannya itu, bukan bagian dari filosofinya sebagai didikan propedeutika, pelajaran pendahuluan pada filosofinya yang pertama.
Pada dasarnya Aristoteles menganggap tiap-tiap buah pikiran itu ada 3 kategori yakni praktika, poitika, dan teoritika. Praktika berhubungan dengan sikap manusia seperti etik, ekonomi, dan politik yang mengupas masalah sikap orang dalam lingkup keluarga dan negara. Poitika (produktif) berhubungan dengan bangunan teknik atau perbuatan seni. Sedangkan teoritika berhubungan dengan hal-hal yang nyata seperti fisika, matematika, dan metafisika. Ajaran pokok logika Aristoteles:
a.    Induksi dan Deduksi
Aristoteles menegaskan bahwa ada dua cara untuk mendapatkan kesimpulan untuk memperoleh pengetahuan dan kebenaran baru, yaitu metode empiris-induktif dan rasional-deduktif. Dalam metode empiris-induktif, menggunakan pengamatan-pengamatan indrawi yang bersifat partikular untuk menyusun pernyataan yang bersifat universal, artinya induksi menghasilkan pengetahuan tentang yang umum, misalnya:
-            Manusia yang memiliki kekebalan tubuh yang rendah akan cepat terserang penyakit
-            Kambing begitu juga, demikian pula pada keledai, kerbau dan binatang lainnya
-            Jadi, semua makhluk yang memiliki kekebalan tubuh yang rendah akan cepat terserang penyakit.
Dalam metode rasional-deduktif, terdapat dua premis pernyataan yang benar , dan menghasilkan konklusi yang berupa pernyataan ketiga yang mengandung unsur-unsur dalam kedua premis itu. Inilah silogisme, dimana Aristoteles mempraktekan deduktif.
b.    Silogisme
Inilah penemuan Aristoteles terbesar dalam bidang logika,  silogisme memiliki peranan utama dalam karyanya tentang logika. Syllogismos, dalam bahasa Indonesia disebut silogistik, dalam bahasa Arab disebut natijah. Silogistik merupakan uraian berkunci, artinya menarik kesimpulan dari kenyataan yang umum atas hal yang khusus. Oleh karena itu, dalam mencapai kebenaran dalam suatu hal dengan menarik kesimpulan dari kebenaran yang umum. Misalnya:
-             Setiap manusia pasti membutuhkan makan
-             Doli adalah seorang manusia
-             Doli pasti membutuhkan makan
Namun suatu pendapat memungkinkan benar atau salah. Aristoteles membagi logika dalam tiga bagian yaitu mempertimbangkan, menarik kesimpulan dan membuktikan atau menerangkan. Menurut Aristoteles, suatu pertimbangan benar apabila isi pertimbangan itu sepadan dengan keadaan yang nyata.[5] Artinya pertimbangan menyebutkan bahwa suatu sifat ada pada suatu barang atau tidak, misalnya, air itu panas atau air itu tidak dingin. Pernyataan yang pertama disebut pernyataan yang positif, dan pernyataan yang kedua disebut peryataan yang negatif.
2.        Fisika dan Metafisika
Sebutan metafisika sebenarnya adalah sebutan yang kebetulan. Yang mana sebutan ini bukanlah berasal dari Aritoteles melainkan dari Andronikus yang mencoba menyusun karya-karya Aristoteles mengenai filsafat pertama yang mengenai hal-hal yang bersifat gaib. Metafisika berasal dari kata meta-ta-fisika. Meta sendiri berarti sesuadah atau di belakang. Maka judul metafisika pada saat itu dipandang tepat sekali untuk dipakai guna mengungkapkan pandangan Aristoteles mengenai hal-hal yang di belakang gejala-gejala fisik.  Metafisika aristoteles berpusat pada masalah “barang” (substansi atau materi pertama) dan “bentuk”(materi kedua). Ia mengemukakan bentuk sebagai pengganti pengertian idea Plato yang ditolaknya. Bentuk ikut memberikan kenyataan pada benda. Tiap-tiap benda didunia ini adalah barang (substansi) yang berbentuk. Barang atau materi dalam pengertian Aristoteles berlainan dari pendapat materi biasa tentang materi.
Awal mula pemikiran Aristoteles tentang metafisika dimulai ketika dihadapkan pada permasalahan  Herakitos dan Paramenides mengenai masalah perubahan. “Apakah segala sesuatu itu Burubah atau Tetap?”. Menurut Heraklitos dimana saja atau segala sasuatu yang aktual itu tidak mempunyai stabilitas, ‘segala sesuatu bergerak’, dan tidak ada sesuatupun yang tetap. Sedangkan menurut Paramenides menyangkal adanya kemungkinan perubahan karena pada hakikatnya yang ada itu tidak bergerak, tidak “dijadikan” dan tidak berubah. Dalam hal ini aristotees mencari sebuah penyelesaian yang lebih memuaskan dari pada yang dikemukakan Plato bahwa dalam penyelesaian akan masalah ini, Plato mengemukakan bahwa yang berubah itu memang ada dan dikenal oleh pengamatan (yang dapat diamati) sedangkan yang tidak berubah, yaitu idea-idea, dikenal oleh akal. Jadi menurut Plato, ada dua bentuk “yang ada”, yaitu bentuk yang dapat diamati (aktual), yang senantiasa berubah, dan bentuk yang tidak dapat diamati, “yang tidak berubah”. Dalam penyelesaian akan masalah diatas, Aristoteles berusaha untuk melukiskan dan menjelaskan gejala itu dan mengambil sebuah contoh konkret, yaitu patung yang terbuat dari batu marmer. Sebelum menjadi (bentuk) patung, benda ini terletak di tempat kerja si pemahat sebagai sebongkah batu marmer. Akan tetapi, tidak ujug-ujug benda itu  merupakan sebongkah batu, karena sebelumnya si batu tadi merupakan bagian dari konfigurasi batu pualam dalam tambang. Ada yang berubah pada dan dengan batu marmer itu. Namun, menjadi seperti (bentuk) apapun itu tetap saja batu marmer. Perubahan disini dapat dilihat yaitu pada “bentuk lahiriah” dari pada batu marmer itu. Batu marmer sebagaimana materi tidaklah berubah, yang berubah hanya bentuknya saja. Dalam tambang, benda itu merupakan bagian dari konfigurasi batu marmer, di tempat sebelum benda itu dijadikan patung (masih berupa bongkahan) itu adalah masih batu marmer begitupun setelah menjadi patung. Materi batu marmer itu tetaplah batu marmer, namun menurut rupa dan bentuknya batu marmer itu telah berubah.[6]
          Jadi, setiap kali terjadi perubahan, ada dua gejala : ada sesuatu yang menjadi yang lain yaitu “bentuk” dan sesuatu yang tinggal sama (tetap) yaitu “materi”, sebagai subjek perubahan. Dengan bertolak dari data-data ini, Aristoteles berusaha untuk mencari syarat-syarat yang perlu diterima untuk dapat menjelaskan benda-benda kosmis. Untuk dapat mengetahu perubahan apa saja – termasuk juga perubahan aksidental[7] - perlu kita menerima dua prinsip yaitu materi “hyle” dan bentuk “morphe”[8]. Yang kemudian lahirlah Hilemorfisme yaitu suatu pengertian dan teori yang dikemukakan Aristoteles untuk dapat menjelaskan segala kelahiran, perubahan dan kebinasaan benda-benda. Menurut Aristoteles tidak hanya terjadi perubahan aksidental saja, namun juga terjadi perubahan-perubahan substansial. Jika sebuah makhluk hidup – seekor Sapi misalnya – mati,  maka tidak terdapat lagi perubahan pada dan dengan sapi itu, tetapi sapi tidak lagi menjadi sapi, melainkan sudah menjadi sesuatu yang lain. Hal inilah yang menurutnya disebut sebagai perubahan substansial, dimana suatu perubahan yang menyangkut hakikatnya.
          Materi (barang) adalah sesuatu yang dapat mempunyai bentuk ini dan itu. Materi (barang) hanyalah kemungkinan, potensia. Bentuk adalah pelaksanaan dari kemungkinan itu, aktualita[9]. Dalam materi sebagai subyek dari perubahan, Aristoteles membedakan materi itu sendiri menjadi dua macam materi. Perbedaan Aristoteles itu antara “materi pertama” (hyle prote) dan “materi kedua” (hyle deutra). Materi kedua adalah bahan yang kelihatan seperti kertas, batu marmer, burung dll. Sedangkan materi pertama adalah bukanlah sebuah bahan yang dapat dilihat, melainkan hanya suatu prinsip dari bahan : tidak dapat dilihat, tidak berkualitas dan berkuantitas dan tidak dapat dimasukan kedalam kategori apapun[10]. Materi pertama juga bukan benda, bukan sesuatu yang berdiri sendiri, namun merupakan sebuah realitas. Materi ini tidak terjangkau oleh observasi langsung hanya dapat ditemukan dengan berfikir tentang gejala perubahan substansial.
Segala perubahaan merupakan hasil dari pembentukan materi. Aristoteles mengemukakan bahwa sebab yang menggerakkan (perubahan) ialah Tuhan. Seperti yang kita liat secara realitas, gerak itu ada yang menyebabkan dan sampai akhirnya kita pada sebab-gerak pertama yang imateriil, tidak bertubuh, tidak bergerak dan tidak digerakkan, serta cerdas sendirinya. Sebab gerak yang pertama itu ialah Tuhan, Nus. Nus itu disamakan pula dengan pikiran murni, pikir dari pada pikir. Tuhan yang berbentuk pikiran itu tidak memerlukan manusia, tidak memerlukan benda-benda, melainkan sebaliknya dunia tergerak padanya. Setiap hal yang bergerak digerakkan oleh sesuatu yang lain, dan ada satu penggerak pertama yang menyebabkan gerak itu tetapi  Ia sendiri tidak digerakkan.
Aristoteles mengungkapkan bahwa segala perubahan itu ada 4 pokok sebab:
1.             Sebab-substansi (barang/materi pertama), yang memungkinkan terjadinya sesuatu atasnya dan dengannya. Sebagai contoh: kayu, batu, besi dll.
2.             Sebab-bentuk, yang terlaksana didalam substansi. Sebagai contoh: rumah.
3.             Sebab-gerak, sebab yang datang dari luar, yakni tukang pembuat rumah.
4.             Sebab-tujuan, yang dituju oleh perubahan dan gerak, yakni rumah yang sudah jadi.
Sebab-tujuan ini adalah suatu yang penting dalam keterangan metafisika Aristoteles tentang alam. Dimana segala yang terjadi di alam, baik pada keseluruhannya maupun pada bagian-bagiannya, dikerahkan oleh satu tujuan.[11] Jadi teleologinya memiliki 2 kategori, pertama kepercayaan agama bahwa segala yang terjadi di dunia ini adala suatu perbuatan yang terwujud oleh Tuhan, Nus yang mengatur segala-galanya. Selain itu, ia berpendapat pula, bahwa alam ini dan yang hidup didalamnya merupakan berbagai jenis organisme yang berkembang masing-masing menurut suatu gerak-tujuan, alam tidak berbuat jika tidak bertujuan.
3.    Etik
Etik Aristoteles pada dasarnya adalah mencapai kebahagiaan sama seperti halnya Socrates dan Plato. Kebahagiaan atau eudaemonie sebagai barang tertinggi dalam kehidupan. Tetapi Aristoteles memahamkan secara realis dan sederhana. Dalam menuju kebaikan yang dicapai oleh manusia harus sesuai dengan jenis laki-laki atau perempuan, derajatnya, kedudukan atau pekerjaannya. Aristoteles menganggap bahwa tujuan hidup tidaklah mencapai kebaikan untuk kebaikan, melainkan untuk merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan menimbulkan kesenangan jiwa yang mendorong manusia bekerja lebih giat. Misalkan saja untuk seorang dokter, kesehatanlah yang baik, tujuannya bukan mengetahui melainkan berbuat atau menjadi orang yang berbudi, berlakunya budi itu tergantung pada pertimbangan mnusia.
Oleh karena itu, tugas dari pada etik ialah mendidik kemauan manusia untuk memiliki sikap yang pantas dalam segala pebuatan. Budi pikiran, seperti kebijaksanaan, kecerdasan, dan pendapat yang sehatlah yang lebih diutamakan oleh Aristoteles dari pada budi perangai seperti keberanian, kesederhanaan, pemurah hati dll.Namun, dalam budi perangai haruslah berada dalam kedudukan tengah antara dua sikap berlawanan, misalnya berani antara pengecut dan nekat, suka memberi antara kikir dan pemboros. Ajaran tengah itu menunjukkan sikap hidup yang sesuai dengan ajaran pandangan filosofi Grik sebelumnya. Agar pandangan sehat (budi dan tahu) itu mempengarui sikap manusia, manusia harus pandai menguasai diri. Manusia yang tahu mengusai diri, hidupnya tidak akan terombang-ambingkan oleh hawa nafsu atau tidak tertarik oleh kemewahan.
Selain mengemukakan jalan tengah itu, Aristoteles mempunyai tiga hal yang harus dipenuhi untuk mencapai kebahagiaan, diantaranya:
1.         Harta, manusia harus mempunyai harta yang secukupnya agar hidupnya terpelihara karena jauh dari kesengsaraan dan keinginan yang meluap.
2.         Persahabatan, menurut Aristoteles persahabatan lebih penting dari keadilan. Sebab orang-orang yang bersahabat dengan sendirinya akan timbul keadilan dalam dirinya. Dimana seorang sahabat memiliki satu jiwa dalam dua orang.
3.         Keadilan, keadilan ada dua: pertama, keadilan dalam arti keseimbangan atau relatif sama dalam keadaan masing-masing. Kedua, keadilan dalam arti hukum yakni memperbaiki kerusakan, seperti mengganti kerugian dalam perjanjian.
Keadilan dan persahabatan menurut Aristoteles adalah budi yang menjadi dasar hidup bersama dalam keluarga dan negara.
4.   Politik
Pada dasarnya manusia adalah zoon politikon yakni makluk sosial, dimana ia tidak dapat berdiri sendiri. Dalam hubungan manusia dengan manusia lain haruslah mempunyai bekal bakat moral. Namun, hubungan manusia dengan negara merupakan bagian dari keseluruhan. Keseluruhan lebih dahulu dari bagian-baginnya, maka negara lebih luas dari keluarga dan orang-orang. Tujuan negara untuk mencapai “keselamatan” untuk semua penduduknya, yakni barang tertinggi dari manusia. Keadilan merupakan dasar dalam sebuah negara, karena menentukan pergaulan manusia.
Aristoteles mengemukakan tiga bentuk konstitusi yang baik:
a.    Monarki
Monarki atau kerajaan berarti suatu bentuk konstitusi yang memiliki satu kepala negara. Agar konstitusi ini berjalan dengan baik, maka ia tidak boleh melenceng menjadi tirani. Tirani yaitu jika seorang pemimpin mengatur negara hanya demi kepentingannya sendiri.

b.   Aristokrasi
Aristokrasi merupakan bentuk konstitusi dimana ada sekelompok, besar atau kecil yang menjadi pemimpin. Bentuk konstitusi ini hendaknya tidak melenceng menjadi “oligarki”. Oligarki merupakan pemerintahan yang dijalankan hanya oleh beberapa orang.
c.    Polity
Polity berarti demokrasi, dimana pemerintahan negara berada ditangan rakyat, dimana mereka mempunyai hak untuk memilih dan dipilih dalam lembaga-lembaga negara. Seluruh rakyat mengambil bagian dalam pemerintahan baik dari mereka yang berada, yang miskin, berpendidikan tinggi maupun tidak. Dengan istilah polity, Aristoteles memaksudkan demokrasi moderat atau demokrasi yang memiliki undang-undang dasar. Aristoteles membedakan beberapa jenis demokrasi, yang paling buruk ialah demokrasi yang tidak mempunyai undang-undang. karena dalam keadaan seperti itu, kekuasaan mudah jatuh ketangan seseorang yang menghasut rakyat. Oleh karenanya, demokrasi semacam ini tidak berbeda besar dengan tirani.








BAB III
PENUTUP dan KESIMPULAN

Secara umum perjalan Pemikiran Filsafat Aristoteles melalui 3 tahap yaitu:
Ø  Tahap di akademi, yaitu ketika dia masih setia kepada gurunya, Plato, termasuk ajaran Plato tentang idea.
Ø  Tahap di Assos, ketika ia berbalik daripada Plato, mengkritik ajaran Plato tentang ide-ide serta membentuk pemikiran filsafatnya sendiri.
Ø  Tahap ketiga yaitu tahap ketika ia di sekolahnya di Athena, waktu itu ia berbalik dari berspekulasi ke penyeidikan empiris, mengindahkan yang konkrit dan yang individual
Aristoteles memiliki pendapat yang sama terhadap gurunya Plato, bahwa tujuan terakhir dari filosofi ialah pengetahuan adanya dan yang umum. Ia juga berpandangan bahwa kebenaran yang sebenarnya hanya dapat dicapai dengan jalan pengertian. Namun, pandangan Aristoteles lebih realis dari pandangan Plato. Plato mempelajari keseluruhan adanya yang dipelajari ialah dunia yang tidak kelihatan yakni bentuk-bentuk kekal atau ide-ide. Sedangkan Aristoteles mempelajari adanya lingkungan pada kenyataan-kenyataan yang kelihatan yakni memperhatikan perubahan-perubahan alam atau proses alam. Ini disebabkan karena pengaruh didikan diwaktu kecil yang senantiasa di hadapkan kepada bukti dan kenyataan.
Ia lebih memandang kepada yang konkrit atau nyata. Awalnya ia mengumpulkan fakta-fakta kemudian dususun menurut ragamnya dan sifatnya. Ia menyelidiki sebab-sebab yang terjadi dalam keadaan yang nyata dan mencari keterangan. Cara kerjanya dengan memperhatikan pendapat ahli-ahli filosofi terdahulu secara kritis dan diperbandingkan kemudian barulah dikemukakan pendapatnya sendiri dengan alasan yang dipertimbangkan.
Maka tak heran, Aristoteles lebih menjelajah pada ilmu-ilmu spesial. Tiap-tiap buku yang dikarangnya membahas masing-masing masalah yang ditinjaunya dengan kumpulan masalah yang terpisah. Ia menulis uraian-uraian tersendiri tentang logika, fisika, biologi, metafisika, etik dan politik. Jadi, filosofi Aristoteles adalah kumpulan dari segala ilmu pengetahuan yang diuraikan satu persatu.Kritik Aristoteles atas teori Plato mengenai ide. Dia tidak setuju bahwa bentuk nyata dari suatu benda (“kuda” sebagai contoh) itu kekal dan abadi serta ide itu sudah ada sebelum benda nyatanya. Tapi menurut Aristoteles, “ide” kuda itu adalah konsep yang dibentuk oleh manusia setelah melihat beberapa bentuk kuda. Ide atau bentuk kuda itu tercipta dari ciri-ciri kuda yakni sesuatu yang dimilki oleh semua kuda. Oleh karena itu, ide-ide itu ada dalam benda itu sendiri, karenanya tidak dapat dipisahkan sebagaimana tubuh dan jiwa.








           
           


[1]Mohammad Hatta, Alam Pikiran Yunani, (Jakarta: UI Press, 1986), hlm. 119
[2] Dr. Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat,( Kanisius 19800, Hlm 45
[3] Jostein Gaarder, Dunia Sophie, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2004), hlm. 126.
[4] Ibid, hlm. 127.
[5]Ibid, hlm. 123
[6] Dr. P.A. van der Weij, Filsuf-filsuf Besar tentang Manusia, (Yogyakarta : KANISIUS, 2000), hlm 41-42
[7] Adalah perubahan sesuatu (sifat) menjadi sesuatu yang lain atau suatu aksiden diganti dengan aksiden yang lain misalnya selembar kertas putih menjadi kuning
[8]hyleadalah unsur yang menjadi dasar permacam-macaman, sedangkan morpheadalah unsur kesatuan. Tiap-tiap benda yang konkrit terdiri dari hyle dan morphe, karena hyle nya maka benda itu benda itulah (bukan benda yang lain), karena morphenya mempunyai inti dan dari itu termasuk pada suatu macam dan dapat ditangkap oleh budi. Jadi hyle dan morphe saling mengisi dan ada keterkaitannya. hyle dan morphe ini merupakan satu kesatuan dan tak dapat dipisahkan, tak ada hyle tanpa morfe, begitu pula sebaliknya.

[9]Potensia ialah dasar kemungkinan, sedangkan aktualita ialah dasar kesungguhannya. Barang sesuatu mungkin karena potensinya. Ia sudah ada karena aktualitanya. Dalam hal yang konkrit itu maka hyle merupakan potensia sedangkan morphe merupakan aktualita.
[10] Menurut aristoteles terdapat sepuluh “kategori” atau sepuluh cara agar sesuatu itu bisa berada. Sesuatu bisa berada sebagai substansi (hal yang berdiri sendiri), karena itu substansi adalah kategori pertama. Sembilan yang lainnya adalah aksiden, artinya tidak berdiri sendiri, melainkan berada dalam sesuatu yang lain. Contoh “putih” adalah kualitas ( salah satu kategori) dari substansi, misalnya seekor sapi yang putih dll.
[11] Ibid, lm. 129.

0 comments:

Post a Comment