BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Dalam sejarah dunia
Barat, berawal dari alam pemikiran Yunani yang merupakan sebagai tonggak
lahirnya filsafat di Barat. Filsafat Barat melahirkan pemikiran-pemikiran baru
yang tak pelak lagi dapat mengubah paradigma manusia dan terus berkembang dari
masa ke masa. Bermula dari filsafat alam oleh filosof-filosof Grik pertama
yakni Thales, Anaximandros dan Anaximenes yang mempelopori pemikiran mengenai
alam besar. Kemudian dilanjutkan pada zaman sofistik, yang mengubah pandangan
filosofi dari kosmos (alam besar) ke manusia. Pada zaman inilah merupakan
zaman pembukaan pikiran yang memberikan sejarah filosofi penting dalam
peralihan pandangan baru dan pada titik inilah lahirnya filosofi klasik.
Filsafat klasik
bermula ditanam dasarnya oleh Sokrates kemudian dilanjutkan oleh muridnya,
Plato dan Aristoteles. Ketiga orang inilah yang dianggap
berperan besar dalam membentuk pola pikir barat. Sokrates menekankan
pentingnya argumentasi dan pemikiran kritis dalam berpikir. Plato menekankan
perlunya untuk selalu mencari kebenaran dan mempertahankan pemikiran kritis.
Sedangkan Aristoteles, murid dari Plato dan guru dari Alexander Agung,
mengembangkan pemikiran kategoris dimana segala sesuatu harus dapat
didefinisikan dan dikategorikan.
Namun, sistem ajaran filsafat klasik baru dibangun oleh
Plato dan Aristoteles. Sistem ajaran Plato dan Aristoteles ini berdasarkan
ajaran Sokrates tentang pengetahuan etik beserta filosofi alam yang berkembang
sebelum Sokrates. Dengan demikian Plato dan Aristoteles menjadi buah buah
pikiran dalam titik persatuan pandangan yang berbeda. Namun karya yang paling
gemilang adalah buah pikiran dari Aristoteles, dimana ia membangun sistem
filosofi yang didalamnya terdapat tempat tersendiri bagi berbagai ilmu spesial
seperti fisika, biologi, etik, politik dan psikologi. Ia mempelajari dengan
mengamati kenyataan-kenyataan yang kelihatan kemudian yang
bersangkut-pautannya. Berbeda dengan pandangan Plato yang mempelajari dunia
yang tidak kelihatan atau dunia idea Memang, pada mulanya Aristoteles juga
mengikuti pemikiran Plato, tetapi selama 25 tahun yang terakhir dari hidupnya
ia melakukan caranya sendiri dengan karakteristik yang berlainan.
Oleh karena itu penting untuk kita ketahui bagaimana
pandangan–pandangan ilmiah filosofi Aristoteles yang mampu sampai berkembang
pada masa sesudahnya sampai dua ribu taun lamanya.Tentu dalam makalah ini,
kami akan mencoba menelisik pandangan dan pemikiran filosofi Aristoteles.
B. Rumusan
Masalah
1. Jelaskan
biografi singkat Aristoteles?
2. Uraikan
gambaran pandangan-pandangan Aristoteles?
3. Bagaimana
Aristoteles membuktikan kesalahan teori ide Plato?
4. Jelaskan
teori logika, metafisika, etik dan politik Aristoteles?
C. Tujuan
dan Manfaat Penulisan
Adapun tujuan
penulisan makalah ini adalah untuk memberikan pengetahuan pemikiran dari tokoh
pemikir tokoh yang terkenal di zamannya yakni Aristoteles.
Ia berperan besar dalam membentuk pola pikir barat dan berpengaruh besar bagi
generasi selanjutnya.
Kami sangat berharap makalah
ini dapat bermanfaat untuk menjadi bahan penambah informasi mengenai pemikiran-pemikiran Aristoteles agar
kita mampu menjadikannya sebagai pola berpikir kita dalam berfilsafat.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Biografi Aristoteles
Aristoteles lahir pada tahun 384
SM di Stageria pada semenanjung Kalkalide di Trasia (Balkan). Ayahnya bernama
Machaon adalah seorang dokter istana pada raja Macedonia amyntas II yang
sangat dihormati. Ia banyak mendapat pelajaran teknik membedah karena dari
kecil ia mendapat asuhan ayahnya. Ia banyak menggeluti ilmu-ilmu alam terutama
ilmu biologi sampai berumur 18 tahun. Latar belakang inilah yang telah
memberikan gambaran pada ajaran filsafat Aristoteles. Ia bukan hanya sebagai
filosof Yunani besar yang terakhir, namun ia juga sebagai ahli biologi besar
Eropa yang pertama.
Tatkala ayahnya meninggal, ia
pergi ke Atena dan belajar pada Plato di Akademia selama 20 tahun. Disaat
itulah ia banyak rajin membaca dan mengumpulkan banyak buku-buku sehingga
Plato mempunyai penghargaan besar terhadap muridnya Aristoteles karena telah
menyusun suatu bibliotik (perpustakaan) pertama di atena dan rumahnya diberi
julukan “rumah pembaca”.
Setelah Plato meninggal,
Aristoteles meninggalkan Atena bersama dengan kawan belajar di Akademia,
Xenokrates. Mereka berangkat ke sebuah kota kecil di pantai Asia Minor, kota
Atarneus yang dikuasai ole Hermias (mantan murid Plato di Akademia).
Kedatangan mereka disambut dengan gembira dan sebagai penghargaan terhadap
Aristoteles, Hermeis menikahkannya dengan saudara perempuannya yang bernama
Pythias. Namun, kedua ahli filosofi ini hanya tinggal selama 3 tahun di
Aternus karena ada serangan dari tentara kerajaan Persia. Namun ia berhasil
melarikan diri bersama istrinya dan menerima undangan dari raja Macedonia
Philippos untuk mendidik anaknya Alexandros yang berusia 13 tahun.
Ia
juga mendirikan lingkungan sekolah dengan nama “Lykeios”, bertempat di sebelah
pinggir kota yang tidak jauh dari candi Lykeios. Selain dari mengajar, ia juga
banyak menulis hingga akhir tuanya.Sebagian besar buah pikirannya yang
tertulis dituliskannya dalam masa itu. Pada tahun 322 SM, Aristoteles
menghembuskan nafasnya pada usia 63 tahun karena penyakit perut yang membawa
ia maut. Jika sekiranya umurnya lebih panjang, tentu semua tulisannya itu
disiapkam menjadi buku yang besar nilainya. Namun, pikiran Aristoteles
menguasai masa sesudahnya sampai dua ribu tahum lamanya[1].Hasil
karyanya banyak sekali. Akan tetapi, sulit menyusun karyanya itu secara
sistematis. Berbeda-beda cara orang membagi-bagikannya. Ada yang membaginya
atas 8 bagian, yang mengenai : logika, filsafat alam, psikologi, biologi,
metafisika, etika politik dan ekonomi dan akhirnya retorika dan poetika ada
juga orang yang menguraikan perkembangan pemikiran Aristoteles meliputi 3
tahap, yaitu :
Ø Tahap
di akademi, yaitu ketika dia masih setia kepada gurunya, Plato, termasuk
ajaran Plato tentang idea.
Ø Tahap
di Assos, ketika ia berbalik daripada Plato, mengkritik ajaran Plato tentang
ide-ide serta membentuk pemikiran filsafatnya sendiri.
Ø Tahap
ketiga yaitu tahap ketika ia di sekolahnya di Athena, waktu itu ia berbalik
dari berspekulasi ke penyeidikan empiris, mengindahkan yang konkrit dan yang
individual .[2]
B. Pandangan Aristoteles
Menurut
Aristoteles filsafat ilmu adalah sebab dan asas segala benda. Oleh karena itu
dia menamakan filsafat sebagai teologi. Filsafat sebagai refleksi dari
pemikiran sistematis manusia atas realitas dan sekitarnya, tentunya tidak
berdiri sendiri, tidak tumbuh diruang dan tempat yang kosong. Lingkungan
keluarga, sosial alam dan potensi diri akan ikut mempengaruhi seseorang dalam
melakukan refleksi filosofis. Oleh karenanya dalam sejarah pemikiran manusia
terdapat tokoh pemikir ataupun filosof yang selalu saja muncul dari zaman ke
zaman dengan tema yang berbeda-beda. Aristoteles (381 SM-322 SM) mengatakan
bahwa filsafat adalah ilmu yang meliputi kebenaran. Aristoteles memiliki
pendapat yang sama terhadap gurunya Plato, bahwa tujuan terakhir dari filosofi
ialah pengetahuan adanya dan yang umum. Ia juga berpandangan bahwa kebenaran
yang sebenarnya hanya dapat dicapai dengan jalan pengertian. Namun, pandangan
Aristoteles lebih realis dari pandangan Plato. Plato mempelajari keseluruhan
adanya yang dipelajari ialah dunia yang tidak kelihatan yakni bentuk-bentuk
kekal atau ide-ide. Sedangkan Aristoteles mempelajari adanya lingkungan pada
kenyataan-kenyataan yang kelihatan yakni memperhatikan perubahan-perubahan
alam atau proses alam. Ini disebabkan karena pengaruh didikan diwaktu kecil
yang senantiasa di hadapkan kepada bukti dan kenyataan.
Ia lebih memandang kepada yang
konkrit atau nyata. Awalnya ia mengumpulkan fakta-fakta kemudian dususun
menurut ragamnya dan sifatnya. Ia menyelidiki sebab-sebab yang terjadi dalam
keadaan yang nyata dan mencari keterangan. Cara kerjanya dengan memperhatikan
pendapat ahli-ahli filosofi terdahulu secara kritis dan diperbandingkan
kemudian barulah dikemukakan pendapatnya sendiri dengan alasan yang
dipertimbangkan.
Maka tak heran, Aristoteles lebih
menjelajah pada ilmu-ilmu spesial. Tiap-tiap buku yang dikarangnya membahas
masing-masing masalah yang ditinjaunya dengan kumpulan masalah yang terpisah.
Ia menulis uraian-uraian tersendiri tentang logika, fisika, biologi,
metafisika, etik dan politik. Jadi, filosofi Aristoteles adalah kumpulan dari
segala ilmu pengetahuan yang diuraikan satu persatu.
Kita
menemukan bahwa terdapat perbedaan yang jelas antara Plato dan Aristoteles.
Plato adalah seorang penyair dan ahli mitologi, sedangkan tulisan-tulisan
Aristoteles sangat kering dan kaku seperti ensiklopedia serta kebanyakan
didasarkan pada telaah-telaah lapangan yang sangat cermat. Dari catatan Yunani
kuno, diperkirakan terdapat 170 judul tulisan Aristoteles. Dari semua itu, 47
judul berhasil dilestarikan.[3]
C. Kritik
Aristoteles atas teori Plato
Kritik Aristoteles atas teori
Plato mengenai ide. Dia tidak setuju bahwa bentuk nyata dari suatu benda
(“kuda” sebagai contoh) itu kekal dan abadi serta ide itu sudah ada sebelum
benda nyatanya. Tapi menurut Aristoteles, “ide” kuda itu adalah konsep yang
dibentuk oleh manusia setelah melihat beberapa bentuk kuda. Ide atau bentuk
kuda itu tercipta dari ciri-ciri kuda yakni sesuatu yang dimilki oleh semua
kuda. Oleh karena itu, ide-ide itu ada dalam benda itu sendiri, karenanya
tidak dapat dipisahkan sebagaimana tubuh dan jiwa.
Dalam teori Plato, tingkat
realitas yang paling tertinggi adalah seuatu yang kita pikirkan dengan akal
kita. Sedangkan menurut Aristoteles, tingkat realitas tertinggi adalah sesuatu
yang kita lihat dengan indra kita. Plato berpendapat bahwa semua benda yang
kita lihat didunia alam ini semata-mata cerminan dari benda-benda yang ada
dalam realitas dunia ide, dan ide itu dalam jiwa manusia. Sebaliknya,
Aristoteles berpendapat, benda-benda yang ada didalam jiwa manusia itu
semata-mata cerminan dari objek-objek alam. Maka, alam adalah dunia nyata.[4]
Selain itu, Aristoteles
mengemukakan bahwa tidak ada sesuatu pun dalam kesadaran yang belum pernah
dialami oleh indra. Sedangkan Plato sebelumnya mengatakan bahwa tidak ada
sesuatu pun di alam ini yang tidak didahului dengan ide. Namun, dari mana
datangnya ide itu? Aristoteles berpendapat bahwa kita tidak mempunyai ide
bawaan seperti yang diyakini Plato, tapi kita mempunyai kemampuan ide bawaan
untuk mengorganisasikan seluruh yang dari indrawi ke dalam kategori-kategori
dan kelompok-kelompok.
D. Karya-karya Pemikiran Aristoteles
1.
Logika
Aristoteles dikenal sebagai
“Bapak” logika. Namun tidak berarti bahwa sebelum Aristoteles tidak ada
logika. Segala orang ilmiah dan ahli filsafat sebelum Aritoteles telah
menggunakan logika dengan sebaik-baiknya karena logika merupakan berpikir
secara teratur menurut urutan yang tepat berdasarkan hubungan sebab akibat.
Pada dasarnya berpikir haruslah menghubungakan isi pikiran dalam hubungan yang
tepat. Maka, Aristoteleslah yang pertama kali menemukan cara berpikir yang
tepat dan teratur dalam suatu sistem. Namun, logika yang diciptakannya itu,
bukan bagian dari filosofinya sebagai didikan propedeutika, pelajaran pendahuluan
pada filosofinya yang pertama.
Pada
dasarnya Aristoteles menganggap tiap-tiap buah pikiran itu ada 3 kategori
yakni praktika, poitika, dan teoritika. Praktika berhubungan dengan sikap
manusia seperti etik, ekonomi, dan politik yang mengupas masalah sikap orang
dalam lingkup keluarga dan negara. Poitika (produktif) berhubungan dengan
bangunan teknik atau perbuatan seni. Sedangkan teoritika berhubungan dengan
hal-hal yang nyata seperti fisika, matematika, dan metafisika. Ajaran pokok
logika Aristoteles:
a.
Induksi
dan Deduksi
Aristoteles menegaskan bahwa ada
dua cara untuk mendapatkan kesimpulan untuk memperoleh pengetahuan dan
kebenaran baru, yaitu metode empiris-induktif dan rasional-deduktif. Dalam
metode empiris-induktif, menggunakan pengamatan-pengamatan indrawi yang
bersifat partikular untuk menyusun pernyataan yang bersifat universal, artinya
induksi menghasilkan pengetahuan tentang yang umum, misalnya:
-
Manusia yang memiliki
kekebalan tubuh yang rendah akan cepat terserang penyakit
-
Kambing begitu juga,
demikian pula pada keledai, kerbau dan binatang lainnya
-
Jadi, semua makhluk
yang memiliki kekebalan tubuh yang rendah akan cepat terserang penyakit.
Dalam
metode rasional-deduktif, terdapat dua premis pernyataan yang benar , dan
menghasilkan konklusi yang berupa pernyataan ketiga yang mengandung
unsur-unsur dalam kedua premis itu. Inilah silogisme, dimana Aristoteles
mempraktekan deduktif.
b.
Silogisme
Inilah
penemuan Aristoteles terbesar dalam bidang logika, silogisme memiliki peranan utama dalam
karyanya tentang logika. Syllogismos,
dalam bahasa Indonesia disebut silogistik, dalam bahasa Arab disebut natijah. Silogistik merupakan uraian
berkunci, artinya menarik kesimpulan dari kenyataan yang umum atas hal yang
khusus. Oleh karena itu, dalam mencapai kebenaran dalam suatu hal dengan
menarik kesimpulan dari kebenaran yang umum. Misalnya:
-
Setiap manusia pasti
membutuhkan makan
-
Doli adalah seorang
manusia
-
Doli pasti membutuhkan
makan
Namun suatu
pendapat memungkinkan benar atau salah. Aristoteles membagi logika dalam tiga
bagian yaitu mempertimbangkan, menarik kesimpulan dan membuktikan atau
menerangkan. Menurut Aristoteles, suatu pertimbangan benar apabila isi
pertimbangan itu sepadan dengan keadaan yang nyata.[5]
Artinya pertimbangan menyebutkan bahwa suatu sifat ada pada suatu barang atau
tidak, misalnya, air itu panas atau air itu tidak dingin. Pernyataan yang
pertama disebut pernyataan yang positif, dan pernyataan yang kedua disebut
peryataan yang negatif.
2.
Fisika dan Metafisika
Sebutan
metafisika sebenarnya adalah sebutan yang kebetulan. Yang mana sebutan ini
bukanlah berasal dari Aritoteles melainkan dari Andronikus yang mencoba
menyusun karya-karya Aristoteles mengenai filsafat pertama yang mengenai
hal-hal yang bersifat gaib. Metafisika berasal dari kata meta-ta-fisika. Meta sendiri berarti sesuadah atau di belakang.
Maka judul metafisika pada saat itu dipandang tepat sekali untuk dipakai guna
mengungkapkan pandangan Aristoteles mengenai hal-hal yang di belakang
gejala-gejala fisik. Metafisika aristoteles berpusat pada
masalah “barang” (substansi atau materi pertama) dan “bentuk”(materi kedua).
Ia mengemukakan bentuk sebagai pengganti pengertian idea Plato yang
ditolaknya. Bentuk ikut memberikan kenyataan pada benda. Tiap-tiap benda
didunia ini adalah barang (substansi) yang berbentuk. Barang atau materi dalam
pengertian Aristoteles berlainan dari pendapat materi biasa tentang materi.
Awal mula pemikiran Aristoteles
tentang metafisika dimulai ketika dihadapkan pada permasalahan Herakitos dan Paramenides mengenai masalah
perubahan. “Apakah segala sesuatu itu Burubah atau Tetap?”. Menurut Heraklitos
dimana saja atau segala sasuatu yang aktual itu tidak mempunyai stabilitas,
‘segala sesuatu bergerak’, dan tidak ada sesuatupun yang tetap. Sedangkan
menurut Paramenides menyangkal adanya kemungkinan perubahan karena pada
hakikatnya yang ada itu tidak bergerak,
tidak “dijadikan” dan tidak berubah. Dalam hal ini aristotees mencari sebuah
penyelesaian yang lebih memuaskan dari pada yang dikemukakan Plato bahwa dalam
penyelesaian akan masalah ini, Plato mengemukakan bahwa yang berubah itu
memang ada dan dikenal oleh pengamatan (yang dapat diamati) sedangkan yang
tidak berubah, yaitu idea-idea, dikenal oleh akal. Jadi menurut Plato, ada dua
bentuk “yang ada”, yaitu bentuk yang dapat diamati (aktual), yang senantiasa
berubah, dan bentuk yang tidak dapat diamati, “yang tidak berubah”. Dalam
penyelesaian akan masalah diatas, Aristoteles berusaha untuk melukiskan dan
menjelaskan gejala itu dan mengambil sebuah contoh konkret, yaitu patung yang
terbuat dari batu marmer. Sebelum menjadi (bentuk) patung, benda ini terletak
di tempat kerja si pemahat sebagai sebongkah batu marmer. Akan tetapi, tidak
ujug-ujug benda itu merupakan sebongkah
batu, karena sebelumnya si batu tadi merupakan bagian dari konfigurasi batu
pualam dalam tambang. Ada yang berubah pada dan dengan batu marmer itu. Namun,
menjadi seperti (bentuk) apapun itu tetap saja batu marmer. Perubahan disini
dapat dilihat yaitu pada “bentuk lahiriah” dari pada batu marmer itu. Batu
marmer sebagaimana materi tidaklah berubah, yang berubah hanya bentuknya saja.
Dalam tambang, benda itu merupakan bagian dari konfigurasi batu marmer, di
tempat sebelum benda itu dijadikan patung (masih berupa bongkahan) itu adalah
masih batu marmer begitupun setelah menjadi patung. Materi batu marmer itu
tetaplah batu marmer, namun menurut rupa dan bentuknya batu marmer itu telah
berubah.[6]
Jadi,
setiap kali terjadi perubahan, ada dua gejala : ada sesuatu yang menjadi yang
lain yaitu “bentuk” dan sesuatu yang tinggal sama (tetap) yaitu “materi”,
sebagai subjek perubahan. Dengan bertolak dari data-data ini, Aristoteles
berusaha untuk mencari syarat-syarat yang perlu diterima untuk dapat
menjelaskan benda-benda kosmis. Untuk dapat mengetahu perubahan apa saja –
termasuk juga perubahan aksidental[7]
- perlu kita menerima dua prinsip yaitu materi “hyle” dan bentuk “morphe”[8].
Yang kemudian lahirlah Hilemorfisme
yaitu suatu pengertian dan teori yang dikemukakan Aristoteles untuk dapat
menjelaskan segala kelahiran, perubahan dan kebinasaan benda-benda. Menurut
Aristoteles tidak hanya terjadi perubahan aksidental saja, namun juga terjadi
perubahan-perubahan substansial. Jika sebuah makhluk hidup – seekor Sapi
misalnya – mati, maka tidak terdapat
lagi perubahan pada dan dengan sapi itu, tetapi sapi tidak lagi menjadi sapi,
melainkan sudah menjadi sesuatu yang lain. Hal inilah yang menurutnya disebut
sebagai perubahan substansial, dimana suatu perubahan yang menyangkut
hakikatnya.
Materi
(barang) adalah sesuatu yang dapat mempunyai bentuk ini dan itu. Materi
(barang) hanyalah kemungkinan, potensia.
Bentuk adalah pelaksanaan dari kemungkinan itu, aktualita[9].
Dalam materi sebagai subyek dari perubahan, Aristoteles membedakan materi itu
sendiri menjadi dua macam materi. Perbedaan Aristoteles itu antara “materi
pertama” (hyle prote) dan “materi
kedua” (hyle deutra). Materi kedua
adalah bahan yang kelihatan seperti kertas, batu marmer, burung dll. Sedangkan
materi pertama adalah bukanlah sebuah bahan yang dapat dilihat, melainkan
hanya suatu prinsip dari bahan :
tidak dapat dilihat, tidak berkualitas dan berkuantitas dan tidak dapat
dimasukan kedalam kategori apapun[10].
Materi pertama juga bukan benda, bukan sesuatu yang berdiri sendiri, namun
merupakan sebuah realitas. Materi ini tidak terjangkau oleh observasi langsung
hanya dapat ditemukan dengan berfikir tentang gejala perubahan substansial.
Segala
perubahaan merupakan hasil dari pembentukan materi. Aristoteles mengemukakan
bahwa sebab yang menggerakkan (perubahan) ialah Tuhan. Seperti yang kita liat
secara realitas, gerak itu ada yang menyebabkan dan sampai akhirnya kita pada
sebab-gerak pertama yang imateriil, tidak bertubuh, tidak bergerak dan tidak
digerakkan, serta cerdas sendirinya. Sebab gerak yang pertama itu ialah Tuhan,
Nus. Nus itu disamakan pula dengan pikiran murni, pikir dari pada pikir. Tuhan
yang berbentuk pikiran itu tidak memerlukan manusia, tidak memerlukan
benda-benda, melainkan sebaliknya dunia tergerak padanya. Setiap hal yang
bergerak digerakkan oleh sesuatu yang lain, dan ada satu penggerak pertama
yang menyebabkan gerak itu tetapi Ia
sendiri tidak digerakkan.
Aristoteles
mengungkapkan bahwa segala perubahan itu ada 4 pokok sebab:
1.
Sebab-substansi
(barang/materi pertama), yang memungkinkan terjadinya sesuatu atasnya dan
dengannya. Sebagai contoh: kayu, batu, besi dll.
2.
Sebab-bentuk, yang
terlaksana didalam substansi. Sebagai contoh: rumah.
3.
Sebab-gerak, sebab
yang datang dari luar, yakni tukang pembuat rumah.
4.
Sebab-tujuan, yang
dituju oleh perubahan dan gerak, yakni rumah yang sudah jadi.
Sebab-tujuan ini adalah suatu yang
penting dalam keterangan metafisika Aristoteles tentang alam. Dimana segala
yang terjadi di alam, baik pada keseluruhannya maupun pada bagian-bagiannya,
dikerahkan oleh satu tujuan.[11]
Jadi teleologinya memiliki 2 kategori, pertama kepercayaan agama bahwa segala
yang terjadi di dunia ini adala suatu perbuatan yang terwujud oleh Tuhan, Nus yang
mengatur segala-galanya. Selain itu, ia berpendapat pula, bahwa alam ini dan
yang hidup didalamnya merupakan berbagai jenis organisme yang berkembang
masing-masing menurut suatu gerak-tujuan, alam tidak berbuat jika tidak
bertujuan.
3. Etik
Etik
Aristoteles pada dasarnya adalah mencapai kebahagiaan sama seperti halnya
Socrates dan Plato. Kebahagiaan atau eudaemonie
sebagai barang tertinggi dalam kehidupan. Tetapi Aristoteles memahamkan
secara realis dan sederhana. Dalam menuju kebaikan yang dicapai oleh manusia
harus sesuai dengan jenis laki-laki atau perempuan, derajatnya, kedudukan atau
pekerjaannya. Aristoteles menganggap bahwa tujuan hidup tidaklah mencapai
kebaikan untuk kebaikan, melainkan untuk merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan
menimbulkan kesenangan jiwa yang mendorong manusia bekerja lebih giat.
Misalkan saja untuk seorang dokter, kesehatanlah yang baik, tujuannya bukan
mengetahui melainkan berbuat atau menjadi orang yang berbudi, berlakunya budi
itu tergantung pada pertimbangan mnusia.
Oleh
karena itu, tugas dari pada etik ialah mendidik kemauan manusia untuk memiliki
sikap yang pantas dalam segala pebuatan. Budi pikiran, seperti kebijaksanaan,
kecerdasan, dan pendapat yang sehatlah yang lebih diutamakan oleh Aristoteles
dari pada budi perangai seperti keberanian, kesederhanaan, pemurah hati
dll.Namun, dalam budi perangai haruslah berada dalam kedudukan tengah antara
dua sikap berlawanan, misalnya berani antara pengecut dan nekat, suka memberi
antara kikir dan pemboros. Ajaran tengah itu menunjukkan sikap hidup yang
sesuai dengan ajaran pandangan filosofi Grik sebelumnya. Agar pandangan sehat
(budi dan tahu) itu mempengarui sikap manusia, manusia harus pandai menguasai
diri. Manusia yang tahu mengusai diri, hidupnya tidak akan terombang-ambingkan
oleh hawa nafsu atau tidak tertarik oleh kemewahan.
Selain
mengemukakan jalan tengah itu, Aristoteles mempunyai tiga hal yang harus
dipenuhi untuk mencapai kebahagiaan, diantaranya:
1.
Harta, manusia harus
mempunyai harta yang secukupnya agar hidupnya terpelihara karena jauh dari
kesengsaraan dan keinginan yang meluap.
2.
Persahabatan, menurut
Aristoteles persahabatan lebih penting dari keadilan. Sebab orang-orang yang
bersahabat dengan sendirinya akan timbul keadilan dalam dirinya. Dimana
seorang sahabat memiliki satu jiwa dalam dua orang.
3.
Keadilan, keadilan ada
dua: pertama, keadilan dalam arti
keseimbangan atau relatif sama dalam keadaan masing-masing. Kedua, keadilan dalam arti hukum yakni
memperbaiki kerusakan, seperti mengganti kerugian dalam perjanjian.
Keadilan dan persahabatan menurut
Aristoteles adalah budi yang menjadi dasar hidup bersama dalam keluarga dan
negara.
4. Politik
Pada dasarnya manusia adalah zoon
politikon yakni makluk sosial, dimana ia tidak dapat berdiri sendiri. Dalam
hubungan manusia dengan manusia lain haruslah mempunyai bekal bakat moral.
Namun, hubungan manusia dengan negara merupakan bagian dari keseluruhan.
Keseluruhan lebih dahulu dari bagian-baginnya, maka negara lebih luas dari
keluarga dan orang-orang. Tujuan negara untuk mencapai “keselamatan” untuk
semua penduduknya, yakni barang tertinggi dari manusia. Keadilan merupakan
dasar dalam sebuah negara, karena menentukan pergaulan manusia.
Aristoteles mengemukakan tiga bentuk konstitusi
yang baik:
a. Monarki
Monarki
atau kerajaan berarti suatu bentuk konstitusi yang memiliki satu kepala
negara. Agar konstitusi ini berjalan dengan baik, maka ia tidak boleh
melenceng menjadi tirani. Tirani yaitu jika seorang pemimpin mengatur negara
hanya demi kepentingannya sendiri.
b. Aristokrasi
Aristokrasi
merupakan bentuk konstitusi dimana ada sekelompok, besar atau kecil yang
menjadi pemimpin. Bentuk konstitusi ini hendaknya tidak melenceng menjadi
“oligarki”. Oligarki merupakan pemerintahan yang dijalankan hanya oleh
beberapa orang.
c. Polity
Polity
berarti demokrasi, dimana pemerintahan negara berada ditangan rakyat, dimana
mereka mempunyai hak untuk memilih dan dipilih dalam lembaga-lembaga negara.
Seluruh rakyat mengambil bagian dalam pemerintahan baik dari mereka yang
berada, yang miskin, berpendidikan tinggi maupun tidak. Dengan istilah polity,
Aristoteles memaksudkan demokrasi moderat atau demokrasi yang memiliki
undang-undang dasar. Aristoteles membedakan beberapa jenis demokrasi, yang
paling buruk ialah demokrasi yang tidak mempunyai undang-undang. karena dalam
keadaan seperti itu, kekuasaan mudah jatuh ketangan seseorang yang menghasut
rakyat. Oleh karenanya, demokrasi semacam ini tidak berbeda besar dengan
tirani.
BAB III
PENUTUP dan KESIMPULAN
Secara
umum perjalan Pemikiran Filsafat Aristoteles melalui 3 tahap yaitu:
Ø Tahap
di akademi, yaitu ketika dia masih setia kepada gurunya,
Plato, termasuk ajaran Plato tentang idea.
Ø Tahap
di Assos, ketika ia berbalik daripada Plato, mengkritik ajaran Plato tentang
ide-ide serta membentuk pemikiran filsafatnya sendiri.
Ø Tahap
ketiga yaitu tahap ketika ia di sekolahnya di Athena, waktu itu ia berbalik
dari berspekulasi ke penyeidikan empiris, mengindahkan yang konkrit dan yang
individual
Aristoteles memiliki pendapat yang
sama terhadap gurunya Plato, bahwa tujuan terakhir dari filosofi ialah
pengetahuan adanya dan yang umum. Ia juga berpandangan bahwa kebenaran yang
sebenarnya hanya dapat dicapai dengan jalan pengertian. Namun, pandangan
Aristoteles lebih realis dari pandangan Plato. Plato mempelajari keseluruhan
adanya yang dipelajari ialah dunia yang tidak kelihatan yakni bentuk-bentuk
kekal atau ide-ide. Sedangkan Aristoteles mempelajari adanya lingkungan pada
kenyataan-kenyataan yang kelihatan yakni memperhatikan perubahan-perubahan
alam atau proses alam. Ini disebabkan karena pengaruh didikan diwaktu kecil
yang senantiasa di hadapkan kepada bukti dan kenyataan.
Ia lebih memandang kepada yang
konkrit atau nyata. Awalnya ia mengumpulkan fakta-fakta kemudian dususun
menurut ragamnya dan sifatnya. Ia menyelidiki sebab-sebab yang terjadi dalam
keadaan yang nyata dan mencari keterangan. Cara kerjanya dengan memperhatikan
pendapat ahli-ahli filosofi terdahulu secara kritis dan diperbandingkan
kemudian barulah dikemukakan pendapatnya sendiri dengan alasan yang
dipertimbangkan.
Maka tak heran, Aristoteles lebih
menjelajah pada ilmu-ilmu spesial. Tiap-tiap buku yang dikarangnya membahas
masing-masing masalah yang ditinjaunya dengan kumpulan masalah yang terpisah.
Ia menulis uraian-uraian tersendiri tentang logika, fisika, biologi,
metafisika, etik dan politik. Jadi, filosofi Aristoteles adalah kumpulan dari
segala ilmu pengetahuan yang diuraikan satu persatu.Kritik Aristoteles atas
teori Plato mengenai ide. Dia tidak setuju bahwa bentuk nyata dari suatu benda
(“kuda” sebagai contoh) itu kekal dan abadi serta ide itu sudah ada sebelum
benda nyatanya. Tapi menurut Aristoteles, “ide” kuda itu adalah konsep yang
dibentuk oleh manusia setelah melihat beberapa bentuk kuda. Ide atau bentuk
kuda itu tercipta dari ciri-ciri kuda yakni sesuatu yang dimilki oleh semua
kuda. Oleh karena itu, ide-ide itu ada dalam benda itu sendiri, karenanya
tidak dapat dipisahkan sebagaimana tubuh dan jiwa.
[1]Mohammad
Hatta, Alam Pikiran Yunani, (Jakarta:
UI Press, 1986), hlm. 119
[2]
Dr. Harun Hadiwijono, Sari Sejarah
Filsafat Barat,( Kanisius 19800, Hlm 45
[3]
Jostein Gaarder, Dunia Sophie, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2004), hlm.
126.
[4]
Ibid, hlm. 127.
[5]Ibid,
hlm. 123
[6]
Dr. P.A. van der Weij, Filsuf-filsuf
Besar tentang Manusia, (Yogyakarta : KANISIUS, 2000), hlm 41-42
[7]
Adalah perubahan sesuatu (sifat) menjadi sesuatu yang lain atau suatu aksiden
diganti dengan aksiden yang lain misalnya selembar kertas putih menjadi kuning
[8]hyleadalah unsur yang menjadi dasar permacam-macaman, sedangkan morpheadalah unsur kesatuan. Tiap-tiap
benda yang konkrit terdiri dari hyle
dan morphe, karena hyle nya maka benda itu benda itulah
(bukan benda yang lain), karena morphenya
mempunyai inti dan dari itu termasuk pada suatu macam dan dapat ditangkap oleh
budi. Jadi hyle dan morphe saling mengisi dan ada
keterkaitannya. hyle dan morphe ini merupakan satu kesatuan dan
tak dapat dipisahkan, tak ada hyle
tanpa morfe, begitu pula sebaliknya.
[9]Potensia ialah dasar kemungkinan,
sedangkan aktualita ialah dasar
kesungguhannya. Barang sesuatu mungkin karena potensinya. Ia sudah ada karena aktualitanya. Dalam hal yang konkrit itu
maka hyle merupakan potensia
sedangkan morphe merupakan aktualita.
[10]
Menurut aristoteles terdapat sepuluh “kategori” atau sepuluh cara agar sesuatu
itu bisa berada. Sesuatu bisa berada sebagai substansi (hal yang berdiri
sendiri), karena itu substansi adalah kategori pertama. Sembilan yang lainnya
adalah aksiden, artinya tidak berdiri sendiri, melainkan berada dalam sesuatu
yang lain. Contoh “putih” adalah kualitas ( salah satu kategori) dari
substansi, misalnya seekor sapi yang putih dll.
[11]
Ibid, lm. 129.




0 comments:
Post a Comment