Friday, January 11, 2013

Surat Majnun untuk Layla

Kepada Dia yang membentuk singgasana surga nan gemerlap. Dia mengatur dunia seorang diri. Dia yang dalam kegelapan hatiku, menyinarkan cahaya yang tidak terlihat. Dia yang menganugerahi manusia keteguhan hati untuk berdo'a dan beribadah padanya. Hanya pada-Nya kutunjukan puji dan syukur atas segala yang diberikan kepada kaum muslimin

Apa yang dapat dilakukan hati yang terbakar oleh kesedihan, selain meratap dan menangis? dan apakah yang bisa dipersembahkan kepadamu, selain keputusasaan? Aku adalah Debu di kakimu, sedang kecantikanmu bagai cahaya syurga bagiku. Engkau adalah ciptaan Langit yang akan selalu menjadi milikku.


Tetapi kini engkau jauh dari ku, engkau berada di taman Iram, surga yang tidak boleh ku lihat. meskipun engkau adalah cahaya hidupku, tapi hari-hariku seperti dalam kegelapan. Dengan kecintaan pada lidahmu yang selalu bergetar saat engkau tersenyum, hatiku selalu berdebar. Dari kata-katamu ku temukan sebuah kelembutan yang mampu menyembuhkan luka. Tidak seperti bunga lili yang sering muncul, dapat menjadi pedang atau mata tombak yang mematikan. Engkau yang selalu mempesona untuk dilihat, mungkinkah diperjualbelikan dengan harga murah? Dulu hatiku menjerit, dan bertanya mengapa engkau mengingkari janjimu kepada ku? Mengapa engkau mencampakkan ku dan mengambil hati yang lain? Menjadi penipu untuk menghibur hati yang lain? tapi kini sang musafir telah menceritakan kepada ku semuanya. tidak akan ada lagi pikiran yang diliputi keraguan. aku akan tetap merindukan bibirmu , dan tak ingin kebahagiaan yang pernah kurasakan hilang sia-sia.
Udara pagi membawa keharumanmu, menggembirakan hatiku, dan rasa itu terus berkembang saat aku mengetahuii engkau selalu menjaga cawan cinta kita, Betapa mempesona, jika kita dapat bertemu dengan seorang yang dirindukan, Duduk bersama dalam kegembiraan, dan memandangi permata rubi itu setiap  hari, mencium bibir yang semanis tetesan madu dari sari bunga yang wangi.

Wahai, dapatkah aku mencium keharumanmu? Khayalan atas dirimu membakar benakku yang liar, haruskah aku melukis semua garis-garis pada wajah bidadarimu? Tidak, pesonamu tidak akan bisa dihapus, karena tertanam kuat dalam kesetiaan di dadaku. Ini adalah takdir kita, Kita harus teerpisah, dan tak perlu menyesali keadaan yang tidak dapat kita perbaiki lagi. Tetapi meskipun di dunia kita terpisah, bukankah surga kita akan diberkahi?

1 comments:

Anonymous said...

mengharukan yaa....

Post a Comment